Kebijakan Saudi, Faktor Perusak Pasar Minyak Dunia

 

Harga minyak yang murah telah merugikan ekonomi negara-negara produsen emas hitam ini. Harga minyak dunia sepanjang tahun 2016 ini diperkirakan berkisar sekitar 40 dolar perbarel bahkan mungkin lebih rendah.

 

Sejak tahun 2014, harga minyak dunia menurun hingga 75 persen; yaitu dari 140 dolar perbarel turun menjadi sekitar 30 dolar perbarel.

 

Bank Societe Generale Perancis, yang merupakan salah satu bank terbesar Eropa memperkirakan bahwa meski tingkat permintaan di Amerika dan pasar negara berkembang stabil, namun produksi lebih minyak dunia akan terus berlanjut.

 

Langkah Arab Saudi yang memasok minyak melebihi permintaan dan memproduksinya melebihi kuota yang telah ditentukan oleh OPEC telah mengejutkan pasar-pasar minyak dunia.

 

Beberapa bulan lalu, Arab Saudi dan Rusia –yang merupakan produsen minyak terbesar kedua dan ketiga dunia setelah Amerika Serikat– sepakat untuk tidak meningkatkan pagu produksi minyak. Para pejabat kedua negara itu hanya membicarakan "penurunan produksi" ke level produksi bulan Januari tahun lalu, namun faktanya negara-negara itu tidak mengurangi produksi minyaknya.

 

Menurut The Washington Times, kesepakatan Arab Saudi dan Rusia untuk mempengaruhi pasar-pasar minyak dunia telah gagal. Sejumlah pakar meyakini, meski ada peningkatan permintaan minyak di Cina yang merupakan salah satu konsumen minyak terbesar di dunia, namun resesi ekonomi di negara ini tetap mungkin terjadi, sehingga masalah ini menimbulkan kekhawatiran. Sebab, resesi ekonomi di Cina akan menurunkan tingkat permintaaan minyak.

 

Penurunan harga minyak juga telah merugikan para produsen Oil Shale yang produksinya membutuhkan biaya yang lebih mahal, bahkan mereka terpaksa menghentikan produksi dengan teknologi Hydraulic Fracturing atau lebih dikenal dengan "fracking" tersebut.

 

Lebaga riset ekonomi internasional, The Peterson Institute for International Economics, bulan lalu juga memperingatkan langkah keliru Arab Saudi terkait kebijakan produksi minyaknya. Dalam laporannya, lembaga riset tersebut menulis, pertaruhan Arab Saudi terkait kesepakatan nuklir Republik Islam Iran adalah tindakan bodoh.

 

Kesepakatan nuklir akan membawa Iran untuk kembali masuk ke pasar minyak. Sejak tahun 2012, negara ini tidak bisa mengakses pasar minyak dunia disebabkan sanksi, namun hari ini kondisi telah berubah, dan kehadiran Iran di pasar-pasar minyak akan lebih kuat dibandingkan dengan beberapa dekade terakhir.

 

Para pejabat Arab Saudi berharap penurunan tajam harga minyak akan memukul perekonomian Iran. Namun ternyata faktanya tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh para pejabat Riyadh. Kini ancaman terbesar bagi negara-negara Arab pesisir Teluk Persia adalah pergolakan di pasar-pasar minyak. Menurut para analis di sektor minyak, dampak politik kondisi ini terhadap negara-negara seperti Arab Saudi dan Kuwait jauh lebih merusak ketimbang dampak ekonominya.

 

Pergolakan pasar minyak dunia akan sangat mempengaruhi kondisi ekonomi negara-negara Arab pesisir Teluk Persia menyusul agenda militer mereka yang telah menghabiskan miliaran dolar, bahkan sekarang mereka berada di ambang krisis serius jika kondisi pasar minyak tidak berubah dan harga minyak tetap rendah.

 

Jika negara-negara Arab di pesisir Teluk Persia tetap mengikuti kebijakan ambisius Arab Suadi, maka mereka harus menyiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan dampak terburuk yang akan menimpa perekonomian mereka.

sumber irib indonesia